who am I ? i am ……., but …………

October 17, 2006 at 3:38 am (Psikonalisa)

swvSeorang temen kaget, sebagai santri, kenapa aku kuliah komputer. Mungkin dia punya pembacaan sendiri tentang aku yang ia kenal, hingga dia anggap selayaknya aku kuliah di UIN Jogja, memperdalam studi islam, dan, akhirnya, jadi young thinker (demikian istilah yang ia gunakan).
Ia tuliskan itu sebagai testimoni di profile friendster-ku. Aku balik testi dia, sebagai jawaban atas apa yang ia tuliskan untukku. berikut kutipan testimoni itu :

Apa si Swanvri sama ama gw: penganut aliran escapology. Lari dari “keharusan sejarah.” (Istilah ini dari ma’lumat sabiqoh :P ) Harusnya kan jadi young thinker. Kalo kita nggak lari dari dunia kita yang “seharusnya”, Vri, mungkin si Ulil Abshar itu gak dianggap orang omongannya wuhahahahahahha.

Jelas, sony, demikian aku memanggilnya, guyon kalau memandang aku bisa ‘mengalahkan’ Ulil yang sekarang malah kuliah di Amerika itu. Dalam kebingungan, testimoni itu sudah menjawab kenapa aku kuliah komputer. Kata “seharusnya” atau “keharusan sejarah” menyimpan banyak hal bagi saya atau mungkin bagi sony sendiri. Ternyata semua tindakan hidup kita terbagi dua, seharusnya(tapi tidak terjalani/dijalani) dan yang tidak-seharusnya (yang terjalani/dijalani). Selalu saja demikian, karena kita hidup dalam tatanan simbolik.

Tatanan simbolik adalah universe of language. Melalui dan dalam bahasa kita menjadi subjek bahasa, menjadi subjek bahasa berarti ditunddukan oleh bahasa.Tunduk kepada cara kerja bahasa yang memproduksi makna dalam dan dengan perinsip perbedaan. Sebuah kata “kucing”, misalnya, makna kucing tidak dihasilkan karena menunjuk kepada konsep mental kucing. Tetapi karena ia relatif terhadap kata (penanda) lain dalam rantai penandaan, baik relasi metonimik atau relasi metaforik, sedang makna kucing yang sebenarnya tetap berada di wilayah unconscious. Nah, dengan demikian, kucing sebagai penanda bukanlah sesuatu yang stabil, utuh, koheren dan lengkap.

Demikian juga “aku” atau “swanvri” bukanlah sesuatu yang utuh, lengkap dan koheren. Juga bukan subjek berfikir cartesian (cogito ergo sum), atau ego Freudian. Manusia mengenal “aku” dan menganggapnya sebagai stable-self ketika ia mulai berkenalan dengan cermin, yaitu ketika, dalam perkembangannya, ia masuk dalam, menurut Lacan, pase cermin ( mirror stage).

Sebelumnya (sebelum masuk ke mirror stage) manusia berada pada craying stage sebuah keadaan dimana kita sangat dekat dengan pure materiality of existence. Manusia tak memiliki konsep apapun tentang diri, atau tentang orang tuanya, bahkan tentang dunia sekitarnya. Semua satu, penuh, lengkap dan utuh. No loss, no lack. Mungkin sejajar dengan “sungguh pernah suatu masa manusia itu bukanlah sesuatu yang bisa disebut”, maaf ini terjemahan bebas al-Quran ayat 1 surat ad-insan.

Sang bayi hanya bisa menangis, karena tidak bisa mengartikulasi kebutuhanny dengan kata-kata. Atau bahkan, karena sang bayi tidak tahu apa yang ia butuhkan. Ibu atau pengasuh yang mendengar ‘memaknai’ tangisan sebagai ‘lapar’; lapar nak ya? o, pipis tho ?. misalkan tangisan direspon dengan memberikan makanan dan kejadian itu terjadi berulang-ulang maka tertransformasilah tangisan menjadi permintaan akan makanan. Ada transformasi ‘need’ menjadi’demand’. Jadi, Bukanlah bayi yang menetukan ‘makna’, tapi Liyanlah menetukan segalanya. Dan beranjakalah bayi ke pase berikutnya; mirror stage.

Pase cermin adalah pase yang sangat krusial dalam perkembangan manusia. Ceritanya, sang bayi tiba-tiba berhadapan dengan cermin. Ia kaget, terkejut. Tradisi jerman menyebunya “pengalaman aha”. Kemudian sang Ibu muncul dan berkata, ” Iya nak, itu adalah dirimu”. Sang bayi kemudian terperangkap antara benci (aku tidak suka gambar dalam cermin itu, karena……) dan cinta (aku suka gambar di cermin…..). Masuk ke pase cermin menandakan perpisah dengan pure materiality of existence. Selangkah meninggal the real. Perpisahan ini juga berarti kehilangan, keterpecahan. Karena di pase ini manusia mulai mengidetifikasi dirinya dengan gambar dalam cermin tadi (Iya, orang yang ada di sana adalah aku). Sang bayi mulai mengenal “aku” dan sekaligus mengenal “liyan”. Inilah perpisahan itu. Sang bayi membangun sesuatu yang disebut idela-I atau ideal-ego. Sebuah konsep diri yang dianggap stabil. Kenapa ‘dianggap’? karena sebenarnya ini adalah kesalah-fahaman belaka atau misrecognition. Citra dalam cermin itu tetaplah sebuah citra, tetap liyan dan bukan “aku”. Dan idetifikasi tadi menjadi self-alienating.

Kesalah-fahaman itu kemudian tetap berlangsung sampai manusia masuk ke pase berikutnya. Dan perpisahan itupun kemudian menjadi kenangan traumatik yang tetap menghantui sampai manusia menjadi dewasa.

Ketika sang Ibu muncul dan menegaskan “Iya nak, itu adalah dirimu”, ketika itu juga sang bayi masuk ke pase berikutnya. Pase ini semakin jauh memisahkan manusia dari The Real atau pure materiality of existence. Ini adalah pase di mana manusia mulai mengenal bahasa.

Masuk ke dalam bahasa, adalah masuk ke system perbedaan bahasa (sebagaimana di atas), dan setelah itu bahasalah yang mengatur persepi manusia tetang dunia yang dialaminya. Masuk ke dalam bahasa berarti tunduk kepada aturan bahasa, kesepakatan-kesepakatan, dan lain-lain.

Cerita perkembangan ini sebenarnya adalah proses pembentukan struktur psikis subjek. Struktur psikis subjek terdiri dari The Real yang berkorenpon dengan pase paling awal perkembangan manusia, The Imaginary yang berkorenpon dengan pase cermin, dan terakhit The symbolic yang mulai tebentuk ketika manusia mengenal dan masuk ke dalam bahasa.

Ok, sebagai manusia dewasa “aku” atau “swanvri” mempunyai struktur psikis demikian. Kehidupan dalam tatanan simbolik membuat “aku” atau “swanvri” sulit dimaknai, layaknya memaknai sebuah kata dalam satu kalimat. Keduanya hanyalah sebuah penanda bagi the pure materiality of swanvri existence. Dan penanda adalah reduksi darinya. Bayi diberi nama swanvri agar bisa dipanggil, disebut. Agar bisa berkomunikasi dan dikomunikasikan, agar bisa bernegosiasi dan dinegosiasikan oleh dunia. “swanvri” hanyalah sebuah penanda dan mewakili subjek bagi penanda yang lain.

Semiotikanya berlapis dan bertingkat. Penanda kemudian berganti menjadi petanda bagi sebuah penanda baru yang menempati posisi penanda pertama tadi dan mewakilinya. penanda baru itu misalnya “santri” (kira-kira itulah yg dimaksud Sony tadi). Penanda pertama dan penanda kedua berhubungan secara metaforik. Hubungan metaforik muncul karena adanya kekuaan refresif. Entah kekuatan siapa…….hingga akhirnya akan muncul dalam dari lidah kita “seharusnya saya…….tetapi………..”. Kata ‘tetapi’ mengandaikan sesuatu yang berada pada suatu tempat yang bisa kita sebut dengan unconscious. Unconsciousness inilah yang mengatur dan merefresi sabjek hingga penanda pertama harus diganti oleh penanda baru (siapa yang menyuruh masuk pondok?).

Mungkin relasi metonimik-lah yang kemudian membuat “santri” harus berganti dengan “programmer” (ini kebingungan sony; swanvri kuliah komputer). Pergantian terjadi dalam relasi metonimik karena ada penanda utama (master signifier) yang berhasil menjadi titik temu bagi “the rest of the signifying chain”. Penanda utama yang berhasil menyatukan rangkaian seluruh hubungan penanda-penanda lainnya yang masih terapung-apung dalam ketidakpastian, menjadi satu keutuhan.

Dalam kasus “swanvri -> santri -> programmer” siapa yang bertindak sebagai penanda utama yang mengendalikan proses produksi makna ? ya kita bisa mengatakan bahwa ‘kaum kapitalis’-lah yang bertindak sebagai penanda utama. Namun sang kapitalis berada pada posisi unconscious. Di permukaan dia diwakili oleh “sistem pengetahuan” yang bernegosiasi dengan objek hasrat. Dan “swanvri” tadi tetaplah sebagai subjek terefresi, dan pasti, yang menjadi split subjek.

Dan swanvri yang dikenal oleh Sony tadi hanya a ampty sign yang tergelincir tanpa akhir dalam the signifying chain. 

1 Comment

  1. sonny said,

    di satu sisi, tidak bisa dihindari bahwa kita terbelit mesin kapitalisme. Penandaan terjajah oleh siapa yang berkuasa. Tapi, Vri, kita selalu harus menyimpan asa untuk sebuah perubahan. Setidaknya kita, kaum intelegensia, berusaha mandiri terhadap usaha pemaknaan yang tidak sesuai dengan idealisme kita.

    Kita berkuasa atas ego, jati diri dan penandaan pribadi !

Post a Comment