kalau pandai menitih buih selamat badan ke seberang
tahun 1987, petitih melayu itu begitu bergema di telingaku. pun hari ini ia menjadi semacam trauma yang kembali dan kembali. mengiangngiang sebagai gambaran-gambaran menakutkan.
bayangkan, aku yang berumur 13 tahun disuruh menitih buih. orang dewasapun belum tentu bisa kan? apalagi buih, buih adalah gumpalan kekosongan, gumpalan ketidak-koherenan, gumpalan ketidak-stabilan. sekilas memang, buih di lautan berjajar menjelma bagaikan struktur jembatan maha-kuat, mampu menampung beban apapun. menjamin keselamatan, stabilitas, makna dan keutuhan. tapi coba saja kau injak buih terdekat dengan kakimu ia akan menghilang dan hanyut berbentuk gelembung-gelembung kecil. tak ada sesuatu di dalamnya. tak ada terasnya. tak ada bijinya. lantas kalau aku menitinya aku bersandar pada apa? aku titipkan keselamatan pada nothing.
lautan itu fasis, buih itu pembunuh, struktur itu penipu. kalaupun dengan penuh kehati-hatian kupijakkan kaki pelan-pelan, aku meloncat dari satu buih ke buih selanjutnya, bisakah kecepatan ayunan kakiku melebihi kecepatan hancurnya buih hingga aku bisa meloncat sebelum buih pertama hancur dan menghilang ?
buih bagi sebagian orang adalah sesuatu yang indah. menjadi objek estetika diramu menjadi puisi. atau bisa menjadi instrument meditasi bila deburannya didengar dengan hati. buih juga bisa dijadikan pembujuk anak kecil agar rajin mandi pagi. tapi kenapa buih yang kosong itu menjadi petitih melayu tadi? kenapa dia dipesankan turun-temurun sebagai wasiat keselamatan ?
buih hanyalah rantai-penandaan, terapung-apung di laut semesta bahasa.
