Anda siapa ?
Anda siapa ?. apa yang kita pikirkan ketika diajukan pertanyaan seperti itu. Bagaimana menjawabnya?. Kalau pertanyaan itu diajukan oleh seorang pembantu yang membukakan pintu di rumah seorang dosen yang anda kunjungi, maka anda akan menjawab:
“saya mahasiswa akakom bu”.
Lain lagi kalau kasusnya terjadi ketika anda menelpon seorang cewek/cowok dan yang mengangkat adalah ibunya, maka jawaban anda kirakira :
“saya temannya bu !“
Kalau anda sendang bertandang ke senayan dalam rangka jual proposal kegitan maka jawaban anda :
“saya dari organisasi a dan kebetulan sekarang lagi ada kegiatan….. “
Kalau yang bertanya adalah pacar anda, dan kebetulan pacar anda protes karena terlalu mengatur, maka jawaban anda :
“saya adalah orang yang sangat mencintaimu”
Dan banyak lagi jawaban yang mungkin kita berikan ketika pertanyaan itu diajukan. Kenapa jawabannya bisa berbeda-beda? Jelas anda akan mengatakan tergantung situasi dan kondisi. Tapi pernahkan anda bingung dan tidak bisa menjawab pertanyaan seperti itu? Pernah, yaitu ketika pertanyaan itu diajukan oleh seseorang sambil berdiri, mata membelalak, tangan ditunjukkan ke muka anda, dan kalimatnya ditambah dengan “memangnya”.
“memangnya anda siapa?”.
O, iya. Choiril Anwar punya jawaban sendiri dalam pusisnya :
“Aku binatang jalang, dari kumpulannya terbuang”
Entahlah, dalam situasi yang seperti apa hingga sang Maestro itu bersyair demikian. Andaikan anda pejabat ordebaru dan anda terlibat skandal politik dalam kasus entahapa, maka media massa akan menyebut anda dengan :
oknum
Dan lain-lain dan lain-lain. Banyak sekali………………. L
Tak ada jawaban yang tetap dan ternyata “aku” bukanlah sesuatu yang stabil, koheren dan utuh. Selalu berubah. Kenapa demikian? Lantas benarkah jawaban-jawaban di atas ?. ah, entahlah, jangan-jangan hidup ini adalah kesalahfahaman tanpa akhir.