harta atau nyawa !
harus memilih !. Tunduk kepada tatanan simbolik berarti menyerahkan diri di hadapan Other (pakai O besar) yang menubuh dalam bapak simbolik. Bapak simbolik adalah semua yang memisahkan anak manusia dari ‘ibunya’, atau semua yang membuat kesatuan primitif itu terpecah menjadi luka tak tersembuhkan. Semua yang memisahkan manusia dari dirinya sendiri.
Hanya ada dua pilihan, terluka atau dianggap tak-ada oleh tatanan. Menjadi sound atau menjadi noise. Menjadi sound berarti tunduk kepada hukum-sang-bapak, menjadi noise berarti disampahkan oleh kuping manapun.
Ketundukan kepada hukum-sang-bapak adalah ketundukan kepada norm, dan orang itu disebut normal. Sebaliknya ketidak-tundukan berarti tidak-normal.
Menjadi normal memang asyik, menjadi sound memang ramai, bertabur gemerlap-bintang. Tapi dalam kerlap-kerlip lampu disko bukankah lagu itu membuat dirimu bergoyang tanpa sadar ? ada unconsciousness dalam desah nafas-keseharianmu. Sebaliknya, membangkang adalah jalan sepi, jalan Khidir berhadapan dengan Musa atau jalan Ibrahim menyembelih Ismail demi mimpi-mimpinya. Jalansepi adalah jalan tanpa lagu, nada atau irama, sunyi bahkan yang ada hanya cacimaki. Sunyi tak ada yang tahu karena memang sendiri. Tak banyak yang berani memilih jalan ini.
Siapa yang berani untuk tidak sekolah dan tidak bertitel? Adakah? Pasti tidak. Keramaian tidak megizinkan itu. Beranikah kita berangkat ke kantor tanpa bercermin lebih dahulu ? oh tidak. Apa kata dunia nantinya. Pernahkah kita menyadarinya? Tidak. Karena memang tatanan simbolik menjadi sisi unconscious dari diri kita. Di sinilah kejamnya tatanan itu, ia tidak melarang kita apa-apa tapi ia menyurh kita melakukan banyak hal untuknya. Tidak bersedia ? kau adalah noise, kau adalah sampah, kau bahkan tak ada.
Bagi sebuah papan catur, kau harus melangkah menurut aturan main. Sebuah puntung rokok yang naik ke atas papan hitamputih itu harus memilih menjadi kudakah, atau menjadi benteng, bhisop, atau menteri, atau menjadi pion. Di luar itu? kau tak lebih dari sampah. Sistem permainan catur tak mengenal puntung rokok. Pilih : harta atau nyawa ! mau jadi pion atau tetap bersama kepuntungrokoanmu ! menjadi pion berarti harus melangkah pelan satu-satu ke depan dan tak ada pilihan lain. Tidak boleh jalan diagonal, tidak boleh menyamping kiri atau kanan. Pokoknya begitu, titik. Ikuti ! dan lupakan mimpi-mimpimu !
“Iran !, kau tidak boleh punya nuklir apapun tujuannya !”, demikian teriak amerika kepada Iran. “tetap ngeyel? Berarti kau adalah noise dan harus aku bersihkan ?”, tambahnya. “Pram, kau akan kupulau-buruhkan ! jangan terbitkan buku-bukumu !“, orde baru bersabda kepada Pramudya Ananta Toer.
“Hancurkan Ahmadiyah, karena dia ‘aliran sesat’ !”, MUI bersabda untuk mengadili sebuah keyakinan.
“hari gini, tidak punya hp ?”, ini adalah ayat-lantunan agama iklan.
“wajahmu bagai tersaput awan kelabu, kini putihnya awan tak seputih wajahmu”, fatwa iklan tentang kecantikan.
Banyak lagi sabda bapak atau hukum-sang-bapak yang harus diikuti oleh siapa saja yang masuk ke tatanan simbolis.
Masih adakah celah antara ikut arus atau tersampahkan, antara ‘harta atau nyawa’ ? mungkin di celah-celah huruf, atau mungkin di spasi yang mengantarai dua penanda?
Angkat tangan ! harta atau nyawa !
Iqbal @l_Imam said,
January 11, 2007 at 4:48 am
Diam-diam, kamu ternyata personil yang paling rajin posting. Baguslah…
Aku hendak sedikit berbagi cerita denganmu tentang kejadian pagi tadi, berhubung semalam kamu dan istri tidak menghadiri perkumpulan kita. Tapi ini hanya suatu kejadian biasa yang kita alami hampir setiap minggu pagi: sarapan seminggu sekali di kantor csat.
Pagi tadi aku merasa kejadian biasa itu sungguh-sungguh luar biasa. Pagi ini hanya ada aku, dian, lela, udin dan mul. Ndut subuh tadi sudah pulang duluan. Saat kami tengah makan, aku mencermati diam-diam entitas apa saja yang mendesak untuk hadir dalam suasana demikian. Ada tv yang menyala, laptop mul yang menyanyikan lagu, masakan lela, buku bourdieu (pinjaman dian) di tanganku, cabe hasil ulekan uding, kucing kecil yang dari semalam hilir mudik di ruang tamu ini, sms temanku yang baru masuk: semua itu mendesakkan dirinya untuk ikut didengar dan ambil bagian dalam “aktivitas makanku”. Menurutku, itulah Liyan yang paling nyata, yang berusaha menginterpelasi diriku dengan bermacam tensi dan kadarnya. Tv yang menyala seolah berkata bahwa aku harus peduli dengan kecelakaan adam air. Laptop Mul meminta perhatian agar aku mendengarkan lagu-lagu darinya. Masakan Lela dan cabe ulekan Uding juga ikut bertitah bahwa selera makanku pagi ini, dia yang menentukan. Belum lagi Bourdieu yang menendang-nendang hasrat keingin-tahuanku. Walhasil: semuanya adalah Liyan yang tanpa kusadari selama ini turut membentuk subject ‘aku’. Lantas, di manakah ‘aku’ yang sebenarnya?
Sobat… kurang ajar sekali ternyata bahwa selera makanku pagi itu juga harus diatur oleh bukan-diriku. HARUSKAH AKU TUNDUK AGAR DISEBUT NORMAL?
Bagaimana menurumu? Ini masih draft kasar yang harus aku tulis ulang.
Balas ke emailku, sementara komentar ini dihapus saja. Mumpung aku masih di depan kotak ajaib ini…. Thanks.
swanvri said,
January 11, 2007 at 5:10 am
to : iqbal
tulislah, malah bagus dan renyah …….. !
dina_koe said,
January 12, 2007 at 6:37 am
another brilliant writing………..
memilih hartapun nyawa belum tentu selamat, jadi tidak ada pilihan kecuali menyerahkan diri kemudian rajin-rajin mencari celah-celah kecil untuk memercik bagai bunga api….
Mari berlomba untuk memercik dan menjadi bunga api di antara penanda-penanda simbolik agar tidak selamanya menjadi subjek yang berada di bawah garis (barred subjek). Kita lintasi garis itu dan lalu menjadi ada……
nulis lagi ya?
sonny said,
January 13, 2007 at 12:57 pm
waaaah,
ternyata… kamu di Yogya jadi anggota gerombolan diskusi gak jelas. Slamet3… Vri, i recognize u never escape !
swanvri said,
January 14, 2007 at 3:16 am
to: Sonny
, tapi hanya satu kayakya yangjelas yaitu ketidakjelasan itu sendiri.
)
memang gak yang jelas kok …..
kayaknya escape tidak, tapi aku memilih jalan sunyi…….
wahid2003 said,
January 19, 2007 at 6:21 am
Sebuah tulisan yang menarik namun sedikit klise. Butuh tidak hanya sekali bagi orang, terutama orang seperti saya, untuk memahaminya.Tapi, pada dasarnya bagus…Oia, Mas, boleh bertukar blog untuk dipasang dalam blogroll?Kalau boleh saya ucapkan banyak terima kasih,semoga bermanfaat bagi semuanya…
swanvri said,
January 22, 2007 at 1:18 am
to : wahid2003
Iya, memang klise…..
) . Tukar blog ? ya bolehlah, nanti kita bisa saling koreksi tulisan atau isinya……..
thanks.