kembalinya yang tertindas

January 23, 2007 at 5:47 am (Psikonalisa, The Real)

Bulan itu masih membentuk piringan kuning terang yang indah di angkasa, bercak noda hitam yang memudar di tubuhnya tampak menggelayut manja. Cahayanya berkilau indah memendar, bahkan ketika mendung mulai menelannya perlahan, ia seakan ingin terus menerjang. Mataku tak berkedip mengaguminya, terus bertahan dari hembusan lembut angin malam yang tak henti membelai helai demi helai bulu mataku. Dalam hening malam yang menekan, sayup kudengar desau sang bayu yang bergelut dengan tepuk dedaunan, seakan memainkan berbait-bait tembang pengiring nyanyian binatang malam yang tak lagi peduli akan dingin yang menyeruak.……………………..…………………….

Sejenak kusadari, begitu berartinya sesuatu yang pernah ada ketika ia tiada…. keberadaannya menjadi sangat berarti ketika ia pergi.(bowo 11 Januari 2007).

Piringan kuning rembulan adalah sebuah kejadian yang dialami seseorang. Karena pedihnya, peristiwa ini ditekan oleh ego (awan mendung) ke alam bawah sadar. Setelah tenggelam di alam bawah sadar, peristiwa ini menjadi kenangan yang tetap berusaha untuk muncul ke alam-sadar, ‘ia seakan ingin terus menerjang’.  

Kalau mau ditelususri peristiwa ini sebenarnya sering sekali muncul dalam hidup seorang pribadi. Sewaktu masih sangat kecil ia muncul dalam permaian ciluk-ba, kemudian sedikit besar, ketika sang anak sudah bisa bicara dan berjalan ia menjadi permaian petak umpet(lihat nakita). Nah tulisan Novelis muda kita di atas tadi adalah versi dewasanya.  

Piringan kuning rembulan adalah sebuah peristiwa yang ditekan dan ditekan terus untuk tenggelam ke balik awan ‘mendung’ ego. Tidak segampang itu !, ia tetap ‘menerjang’, tak rela dan terus berusaha untuk selalu muncul di alam-sadar. Karena tak sesuai dengan keinginan orang banyak, maka ia muncul dalam bentuk mimpi-mimpi, keseleo-lidah ataupun guyonan. Atau muncul dalam bentuk tulisan pendek di sebuah blog. Hal-hal seperti ini memang tidak disadari oleh subjek bahasa. Subjek mengira bahwa ia berbahasa padahal ia dibahasakan.  

Ini adalah peristiwa kembalinya yang tertindas, walaupun setiap kembalinya dia bisa dalam bentuk yang berbeda. Berbentuk ciluk-ba, petak umpet atau berbentuk piringan kuning rembulan (malah berbentuk blognya J). Seperti trauma, ia selalu mengusik kesadaran subjek. 

Trauma adalah kemustahilan yang penting dan mengacu pada pengalaman hidup seseorang yang tidak dapat dilambangkanya, atau dibahasakannya, secara memadai. Trauma adalah pengalaman dalam kategori ‘alam nyata’. Akan tetapi tidak mungkin meghapus segala sesuatu yang nyata dari trauma sehingga trauma menjadi kategori kosong, tidak berisi apa-apa. Kita semua harus hidup dengan alam nyata, dengan “yang mustahil dikatakan”. Kalaupun bisa, paling-paling  dia hanya bisa dikondensasikan dalam metafor ciluk-ba, petak-umpet, atau pringan kuning tadi. Itupun selalu ada yang tercecer, selalu ada yang tertinggal.  

Lalu apa arti gejala-gejala ini (ciluk ba, petak umpet dan piringan kuning rembulan) ?. Peristiwa apa ?. Sayangnya sang Ananlist tak punya kamus mimpi J.

Permalink 1 Comment