keseleo lidah orang lain

February 9, 2007 at 4:03 am (Lacan, Language and Otherness)

Seorang pimpinan sidang, dengan semangat sekali mengayunkan palu membuka sidang sambil berkata, “dengan mengharap rahmat tuhan yang maha esa sidang secara resmi saya tutup”, tok, tok, tok………. Hadirin riuh, ada yang berbisik, saling pandang dan tersenyum, walau berarti entahapa.  

“ini baru pembukaan bapak pimpinan, belum penutupan !”, seorang peserta berteriak dengan menggunakan pengeras suara. 

“O iya, maaf, maksud saya sidang saya buka”. Pimpinan sidang meralat tanpa rasa berdosa sedikitpun. 

Peristiwa di atas kita sebut dengan ‘keseleo lidah’ yang dalam bahasa inggrisnya disebut a slip of tongue.
Ada banyak kemungkinan kenapa kata ‘buka’ keselip atau tertukar dengan kata ‘tutup’, siapa yang menukarnya? Entahlah, tapi satu yang pasti bahwa ternyata ada lebih dari satu wacana yang menggunakan satu lidah dan satu mulut dalam waktu bersamaan.
 


Ada dua wacana berbeda yang bisa dijelaskan pada kasus bapak pimpinan sidang tadi : pertama, intensional discourse yang teridiri dari sesuatu yang dicobakatakan yaitu kata ‘buka’ . Kedua, unintensional discourse yang terdiri dari sesuatu yang muncul begitu saja yaitu kata ‘tutup’.  

Contoh sederhana ini mengantarakan kita untuk membedakan antara dua tipe wacana, atau sederhananya, dua tipe ‘wicara’. 

  • Ego talk : pembicaraan harian yang secara sadar kita anggap dan yakini tentang diri kita.
  • Some other kind of talk.

 

Kita bisa mengatakan bahwa tidak hanya dua macam ‘wicara’, tetapi kejadian seperti di atas tadi berasal dari dua ruang psikologis yang berbeda : yaitu ego (atau self) dan Other atau Liyan (selanjutnya menggunakan kata Liyan). Other kind of talk berasal dari an other  yang berada entah dari mana, bukan ego. 

Freud menyebutnya dengan unconscious atau ketidaksadaran, dan dari sini Lacan menegaskan istilah yang berbeda bahwa “Unconscious is the Oter’s discourse”, ketidaksadaran adalah wacana Liyan. 

Di sinilah perbedaan psikologi-ego anglo-saxonian dengan Lacan, walaupun mereka sama-sama penerus Freud. Atau mungkin ini titik perbedaan Lacan dari Freud. Bagi Freud ketidaksadaran adalah id, sedangkan bagi Lacan ketidak sadaran adalah wacana Liyan. Lacan menarik keluar ketidaksadaran dari wilayah dalam subjek ke wilayah sosial dan bahasa yang ia sebut dengan wacana Liyan. 

Kita selalu percaya bahwa kita sadar dan selalu dalam kontrol. Bahwa kita selalu yakin bahwa apa yang kita lakukan, kita inginkan, kita bayang dan mimpikan adalah sesuatu yang kita sadari betul sebagai kemauan kita sendiri. Dari sudut pandang self atau ego, ‘Aku’ menunjuk ke : bahwa satu aspek dari diri kita yang kita sebut ‘Aku’ percaya bahwa ia tahu dan menyadari apa-apa yang ia pikir dan rasakan, yakin bahwa ia menyadari kenapa ia melakukan apa yang ia lakukan.  Tapi benarkah demikian? Benarkah kejadian intrusi oleh Liyan itu hanya terjadi pada kasus keseleo lidah? Atau, mungkinkah sebenarnya dalam seluruh hidup kita ini ada sisi unconscious yang sangat berpengaruh terhadap selera, mimpi dan tindak keseharian kita.  

Bagi Lacan tegas, bahwa selalu ada dua sisi dari selembar kertas; terlihat dan tidak terlihat. Bahkan ‘kita bercermin setiap sebelum berangkat kerja’ pun sebenarnya bukan murni kemauan kita, kita bercermin hanya karena dunia tidak mengizinkan kita tampil apa adanya. Nah ‘dunia’ inilah ketidaksadaran itu, sistem, bahasa dan wacana Liyanlah yang mengendalikan hidup kita dari sebuah wilayah yang disebut ketidaksadaran itu.  

Kenapa bahasa?  Bagaimana? Mulai kapan ?  

{ maaf, tulisanku selanjutnya akan mencobajawab tiga pertanyaan di atas. O iya, tulisanku ini hanya usahabodohku merangkum bacaanku terhadap Lacan melalui Fink, semoga nati bisa beranjak ke studi budaya, sastra, dan film :) }

2 Comments

  1. Iqbal @l_Imam said,

    Ada seorang guruku yang sampai sekarang masih mempertahankan studinya terhadap salah seorang teman Jacques Lacan, yakni Levi-Strauss. Seperti sering dituliskan, Lacan dan Levi-Strauss memang bersahabat. Bahkan konon Levi-Strauss bertemu calon istrinya yang ketiga (ketika itu belum menjadi istrinya) di rumah Jacques Lacan. Hebatnya, dua tokoh ini sama-sama dititisi oleh Ferdinan de Saussure.

    Sekarang ada sahabatku yang mati-matian mempertahankan studinya terhadap sahabat Levi-Strauss.

    Sayang sekali, guruku tidak pernah bertemu dengan temanku ini; walau hanya untuk sekedar nostalgia Lacan-Strauss..

    Salut untuk mereka berdua… Biar ada yang memegang kendali atas Saussure..!!

  2. kuyazr said,

    “Atau, mungkinkah sebenarnya dalam seluruh hidup kita ini ada sisi unconscious yang sangat berpengaruh terhadap selera, mimpi dan tindak keseharian kita?”

    Ya dan itu telah diulas oleh Carl Gustav Jung sebagaimana ia sebut Collective Unconscious.

Post a Comment