Cemas

March 8, 2007 at 6:56 am (Psikonalisa, subject)

Beberapa bulan yang lalu, belum hilang dari ingatan, aku berlari entah kemana. Waktu itu, setelah paginya Jogja diguncang gempa, aku buru-buru ke kantor memerikasa server-server penting yang menjadi tanggung-jawabku. Tiba-tiba dari arah selatan, manusia berbondong-bondong, berlari dengan wajah cemas.   

Seorang ibu berteriak kepadaku,”Hayo, jangan bengong !, lari !, tsunami !”. Tsunami !. aku kaget, gempa tadi pagi mengakibatkan tsunami. Aku bergegas di antara wajah-wajah cemas. Aku lari kemana? Ke utara? Bukankah di utara merapi sedang hamil tua?.

Sekilas kubalikkan badan, memandang ke belakang. Iring-iringan cemas itu begitu panjang. Wajah-wajah ketakutan yang kebanyakan tak sempat dicuci itu kelihatan berlinang aiar mata kecemasan. Mana ada yang berani masuk kamar mandi sejak subuh tadi, semua di luar rumah setelah goncangan dahsyat itu membangunkan jogja dengan paksa. Sekilas, gambar-gambar peristiwa tsunami aceh, sebgaimana kulihat di tv, terbayang. Akankan hidupku berakhir di sini?, akankah aku mati terdampar? Ah, tidak, mungkin aku bisa menyelamatkan diri ke janti faly over, demikian pikirku.  Lebih cepat lagi kaki kuayun, jalan kecil menuju jalan Janti penuh.  

Tiba-tiba nyaliku menciut. Di depanku janti flay over penuh sesak. Ada yang  berjalan kaki, ada yang mengendarai mobil, motor, sepeda, semua naik dan parkir disana.  Ternyata semua orang sudah berpikir demikian, mencari tempat tinggi agar tak dihanyutkan oleh air yang segera datang. Langkah kupercepat, secepat itu pula terbayang di kepalaku jembatan layang itu ambruk kelebihan beban. Ah, tidak. Naik ke jembatan itupun aku tetap akan mati.  

Pagi ini 7 maret 2007, sebelum berangkat kerja aku nonton berita pagi sambil minum kopi. Tiba-tiba ada berita, kecelakaan pesawat Garuda di bandara Adi Sucipto. Berita itu diselingi suara sirene ambulans, suaranya nyaring dan ramai sekali, seoalah tidak dari dalam tv. Kumatikan tv, ternyata iya suara itu dari jalan raya yang tak jauh dari kostku. Oh, kecelakaan itu terjadi begitu dekat, di bandara Adi Sucipto. Dekat sekali.  Ini adalah kecelakaan keentahberapa di negeri ini. Kecelakaan yang banyak makan korban jiwa ini juga diselingi oleh gempa bumi, tsunami, banjir, lumpur, angin puting beliung, dan entah apa lagi, dan entah berapa lagi korban akan jatuh.  Ah, kematian seolah begitu dekat, berkerumun di depan pintu, tinggal mengetuk minta masuk.  

Dimana kecemasankan kutitipkan di negeri (ke)celaka(an) ini?.  Menyusuri hari-hari dengan kecemasan. Cemas tak ada jaminan; jaminan bahwa kereta api yang kutumpangi tak anjlok, bahwa pesawat yang kutumpangi tidak jatuh menghilang atau terbakar, bahwa kapal laut yang kutumpangi tidak tenggelam. Ok aku akan diam saja tidak kemana-mana. Tapi, adakah jaminan aku aman dari banjir bandang? Adakah jaminan aku selamat dari angin puting beliung yang bisa datang kapan saja? Adakah jaminan kotaku tidak akan digoncang gempa lagi?

Ah, aku masih menyimpan rekaman Gus Mus dengan puisi berikut :

Bila kutitipkan dukaku pada langit

Pastilah langit memanggil  mendung 

Bila kutitipkan resahku pada angin

Pastilah angin menyeru badai 

Bila kutitipkan geramku pada laut

Pastilah laut menggiring gelombang 

Bila kutitpkan dendamku pada gunung

Pastilah gunung meluapkan api…. 

Tapi  

akan kusimpan sendiri mendung dukaku dalam langit dadaku 

Kusimapan sendiri badai resahku dalam angin desahku  

Kusimpan sendiri gelombang geramku dalam laut fahamku 

Kusimpan sendiri api dendamku dalam gunung resamku….. 

Ku simpan sediri…………..  (gus mus:1412 H)

 

Dan akupun tertidur……..

Permalink 2 Comments