aku pergi, maka aku ada *
“Aku, Rasus, sudah menemukan diriku sendiri. Dukuh Paruk dengan segala sebutan dan penghuninya akan kutinggalkan”. (Rasus)
Adalah Rasus, seorang pemuda Dukuh Paruk, sejak kecil tak pernah tahu seperti apakah wajah ibunya. Sejak kecil pula diceritakan padanya dua versi cerita berbeda tentangnya. Konon ketika Dukuh Paruk ditimpa musibah keracunan massal tempe bongkrek, ibunya bersama yang lain dibawa ke kota oleh seorang mantri. Sebagian kembali dalam keadaan sembuh, sebagian lagi kembali dalam keadaan sudah meninggal, dan ibunya tak kelihatan sama sekali. Desas-desus mengatakan bahwa ibunya meninggal tak tertolong dan mayatnya dijadikan alat penelitian bagi ilmu kodokteran. Ada juga yang mengatakan ibunya sebenarnya tidak meninggal tetapi sembuh dan pergi bersama mantri yang mengobatinya. Dua-duanya bagi Rasus sama saja, tapi yang pertama jelas lebih baik. Ia tidak bisa membayangkan kalau Ibunya benar-benar pergi bersama mantri itu. Kebencian dan dendamnya memuncak jika ia membayangkan kemungkinan itu.
Bagi Rasus, menemukan diri sebagai yatim-piatu adalah menemukan diri yang tak lengkap dan tak padu. Menemukan diri yang terluka. Luka yang kemudian membentuk dirinya. Ketika ia menyadari ia terpisah dengan ibunya (juga dengan dunia), muncullah kekawatiran yang disebabkan oleh perasaan kehilangan sesuatu. Maka muncullah permintan, permintaan agar liyan menjadi bagian dari dirinya.
Pada level permintaan inilah Srintil kecil yang terlahir sebagai ronggeng Dukuh Paruk mendapatkan tempatnya dalam kehidupan Rasus. Namun tak berlangsung lama. Ketika Srintil benar-benar menjadi ronggeng Rasus kembali kecewa, ia kembali merasa berjarak dan terpisah. Karena dengan demikian Srintil menjadi boneka dan milik orang banyak. Milik Dukuh Paruk. “Sering kusumpahi diriku mengapa aku menjadi tersiksa karenanya”, demikian Rasus meratapi nasibnya.
Namun tak lama, dari pergunjingan ibu-ibu tentang tak matching-nya keris yang dipakai Srintil dengan besar tubuhnya, terutama kalau lagi menarikan baladewa, Rasus menemukan cara agar ia tetap bisa dekat dengan Srintil. Yaitu memberikan Srintil keris yang lebih kecil, karena kebetulan di rumah ada keris peninggalan ayahnya. Akhirnya, dengan mengendap-ngendap dan kris terbungkus baju, Rasus meneyelinap ke rumah Sakarya dan menemukan Srintil sedang pulas tidur di atas balai-balai. Tanpa membangunkannya, keris itu ia selipkan di tangan Srintil. Baginya penyerahan semacam itu sangat dalam. Ia sama sekali tidak merasakan menyerahkan sebilah keris kepada seorang ronggeng kecil.
“……..Yang kuserahi keris itu adalah perempuan sejati, perempuan yang hanya hidup dalam angan-angan, yang terwujud dalam diri Srintil yang sedang tidur. Tentu saja perempuan yang kumaksud adalah lembaga yang juga mewakili Emak, walau aku tak pernah tahu di mana ia berada”.
Di sinilah permintaan itu. Di mana Rasus imagines the real of/in the symbolic (IRS), membayangkan – the real of – Emaknya pada seorang Srintil yang telah menjadi ronggeng yang merupakan sebuah penanda dalam tatanan simbolik. Dengan memberikan keris itu kepada Srintil ia memperoleh imbalan yang cukup : “Srintil kembali memperhatikan diriku. Ini berarti ada seorang perempuan dalam hidupku, suatu hal yang telah bertahun-tahun kudambakan”.
Sebenarnya Rasus ragu, apakah hubungannya dengan Srintil adalah hubungan layaknya laki-laki dan perempuan kebanyakan. Sama ragunya dia apakah Emaknya benar seperti yang ia bayangkan pada wajah Srintil. Yang jelas, penampilan Srintil membantunya mewujudkan angan-angannya tentang pribadi perempuan yang telah melahirkannya. Bahkan juga bentuk lahirnya. Bagi Rasus, emaknya mempunyai senyum yang bagus seperti Srintil. Suaranya lembut, sejuk, suara perempuan sejati. Namun, ia tidak dapat memastikan apakah emak juga mempunyai cambang halus di kedua pipinya sebagaimana Srintil. Menghadapai keraguan seperti ini, karena memang belum pernah melihat Emak, Rasus membangun persamaannya sendiri sedikit demi sedikit. Lama-lama hal yang ia bangun sendiri itu ia jadikan kepastian dalam hidupnya. Dianggap pasti begitu saja, walau sebenarnya ia ragu. Luka yang ia cobaobati selama ini dianggap tersembuhkan begitu saja oleh gambaran yang ia lukis sendiri. Sebuah misrecognition yang memberikan keutuhan semu dan seolah-olah.
Alkisah, untuk menjadi seorang ronggeng, Srintil harus melewati dua tahapan penting. Pertama, upacara pemamdian di depan di depan cungkup makam Ki Secamenggala. Kedua, malam bukak-kelambu. Malam bukak-kelambu adalah malam di mana keperawanan calon ronggeng dilelang, orang yang berani membayar paling mahal dialah yang akan tidur bersama calon ronggeng untuk pertama kali.
Bagi Rasus, malam buka-kelambu ini menjadi masalah, sedemikian :
“…….soal dia kehilangan keperawanannya tidak begitu berat kurasakan. Tetapi Srintil sebagai cermin tempat aku mencari bayangan Emak menjadi baur dan bahkan hancur berkeping”.
Cermin tempat mencari bayangan. Sebenarnya bukan bayangan Emak yang ia lihat, tetapi bayangan dirinya sendiri, dirinya-yang-ber-emak, karena tidak mungkin ada bayangan Emak dalam cermin tanpa Emak berdiri langsung di depannya. Sedang ‘hancur berkeping’ yang ia maksud adalah hilangnya bayangan Emak dan menjadi bayangan-dirinya-yang-tak-ber-Emak. Atau dengan kata lain, di hadapan cermin itu Rasus terperangkap antara suka dan tidak suka dengan apa yang dipantulbalikkan kepadanya oleh cermin.
Menemukan cerminan diri sendiri artinya Rasus sampai kepada gagasan tentang dirinya sebagai suatu identitas. Ia membayangkan dirinya sebagai pengada koheren yang dilihatnya dalam cermin. Dengan demikian kesadaran diri ini datangnya dari luar, yang semata-mata hanya cerminan dirinya sendiri. Relasinya adalah relasi penandaan, dimana Rasus adalah penanda dan citraan-cermin adalah petanda. Tapi relasi semena-mena ini tak pernah bersentuhan langsung. Sebuah garis yang tak bisa ditembus memisahkan keduanya. Tak ada bauran secara vertikal antara penanda dan petanda. Bauran berlangsung secara horizontal, yaitu penanda terus berpendar-pendar di atas petanda yang senantiasa mengalir dan berubah-rubah.
Dan, Rasus memutuskan untuk pergi.
“…….sebab sejak peristiwa malam bukak-kelambu itu Srintil diseret keluar dari dalam hatiku. Dukuh Paruk bertindak semena-mena kepadaku. Aku bersumpah takkan memaafkannya”.
Ada sesuatu yang tidak bisa dilawan, dan Rasus harus mengakui itu. Bahwa Srintil keluar dari dalam hatinya bukanlah karena sesuatu yang intrinsik, ia menjadi demikian hanya karena penanda ‘ronggeng’ yang ditempelkan kepadanya dengan seperangkat konsep yang ada dibalik pengertian tersebut. Dan ketika itulah proses yang berlangsung menjadi sangat penting. Kata “ronggeng” telah mengaktifkan sehimpunan tata krama yang akibatnya akan serius bila dilanggar. Sebagaimana dalam kalimat, sintagma, atau potongan wacana yang terbuka, setiap tanda akan memodifikasi tanda sebelumnya. Dengan demikian, penyegelan tanda ‘ronggeng’ pada satu makna, menciptakan kegoncangan pada tanda lain, yaitu Rasus.
Kepergian Rasus ke Dawuan, dalam rangka meninggalkan Dukuh Paruk dalam kecewa, tak membuatnya bisa memutuskan segala dan melupakan semua. Dan tidak juga membuat dirinya keluar dari hal yang sama dengan yang terjadi di Dukuh Paruk. Memang pasar Dawuan sedikit demi sedikit merenggangkan hubungannya dengan Srintil. Pasar Dawuan juga ternyata adalah sebuah tatanan simbolik yang mempunyai aturan dan hukumnya sendiri, walaupun berbeda dengan Dukuh Paruk. Misalnya kata ‘asu buntung’ yang di Dukuh Paruk adalah ungkapan biasa, maka di Dawuan akan berbeda. Atau mencubit pipi seorang gadis, di Dukuh Paruk tidak menjadi masalah, tapi di Dawuan akan dicerca. “Aku sedang terlanda masuknya nilai baru ke dalam hati, ……”, ucap Rasus suatu ketika. Berhadapan dengan nilai-nilai baru ini Rasus-pun menyikapinya dengan cara yang sama dengan nilai-nilai yang pernah membuat ia meninggalkan Dukuh Paruk.
“Ah. Biarlah, bagaimanapun juga yang aku harus mengalah, dengan mulai belajar menerima kenyataan, bahwa di luar tanah airku yang kecil berlaku nilai-nilai yang lain”.
Proses belajar dan menerima ini kemudian yang akan memapankan sesuatu yang asing bekerja dalam struktur psiksisnya. Belajar menerima kenyataan adalah ‘kepasrahan’ terhadap yang lain. Atau, dengan kata lain, keterasingan. Belajar menerima akan berujung pada pengakuan bahwa nilai-nilai yang datang dari luar itu adalah miliknya sendiri. Situasi yang sulit, tapi tidak mungkin untuk tidak menerimanya agar ia (Rasus) bisa hidup di Dawuan.
Pengalaman Rasus di Dawuan juga membawa perubahan lain. Ia tidak lagi membayangkan Emak pada wajah Srintil. Sebagai gantinya, ia gambarkan Emak dengan ciri-ciri lain khas Dukuh Paruk. Rambut kusut dengan ujung kemerahan. Wajah lesu dan pucat karena sehari-hari tidak cukup makan. Sepasang tetek dengan puting hitam, hanya subur di waktu panen. Sepangan telapak kaki yang lebar dengan endapan daki melapisinya. Kata-katanya kasar dengan selingan serapah cabul. Itulah gambar seorang perempuan Dukuh Paruk, gambaran yang lebih masuk akal. Ia mulai belajar bahwa sebagai perempuan Dukuh Paruk, Emak memiliki ciri-ciri begitu pula. Dalam situasi ini, semakin ia meleburkan diri dengan dunia baruya, semakin ia menjadi subjek yang terkungkung dengan kosntstruksi-konstruksi yang telah ada, namun sekaligus juga terbuka dengan transformasi, sebuah proses transformasi yang tak berkesudahan. Seperti halnya makna yang selalu berpendar dan licin, begitu juga subjektifitas Rasus.
Dengan demikian juga, maka tak semuanya bisa tertampung oleh sebuah bahasa, transfromasi selalu menyisakan residu yang tercecer. Selalu ada yang luput dari sebuah kekuasaan, setotaliter apapun ia. Sebuah permintaan, bahkan, mustahil bisa terpenuhi. Seperti permintaan akan cinta, paling jauh hanya terpaksa-dipuaskan dengan sekuntum bunga. Dan ketika reduksi itu terjadi, tatanan simbolik (bunga sebagai simbol cinta) mengambil alih, permintaan tertransformasi menjadi keinginan. Sebenarnya sejak awal hal ini sudah terjadi, yaitu ketika permintaannya terhadap Srintil terbukti salah, dan dari kasus itulah ia (Rasus) sebenarnya sudah mulai mengenal keinginannya sendiri. Jadi, keinginan muncul dari frustrasi, dari permintaan, yang diajukan kepada orang lain (Srintil) dan yang didapatinya tidak ditanggapi secara memadai. Dalam pergeseran dari permintaan ke keinginan inilah selau ada yang tercecer dan tertinggal, apalagi bila permintaan terlalu banyak. Namun sebagaimana setiap orang, suatu taraf minimum permintaan diperlukan untuk menjaga agar keingian tetap berlangsung, dan hidup tetap berlanjut.
Dan Rasus terus berjalan. Melanjutkan hidupnya di pasar Dawuan.
Sampai suatu hari keberuntungan datang. Karena ketangkasannya memikul barang-barang milik tentara, ia diterima di kesatuan sersan Slamet yang kebetulan bertugas mengamankan kawasan Dawuan, termasuk Dukuh Paruk, dari perampokan yang sedang menjadi-jadi ketika itu. Ia diterima sebagai tobang, [mungkin] pembantu. Dan iapun berhak memakai seragam loreng, walau tanpa tanda kepangakatan. Rasuspun menjadi Rasus yang baru.
Sebagaimana sesuatu yang ditekan akan selalu mencari cara untuk muncul dan dipedulikan, dan sebagaimana permintaan tidak akan bertranformasi semuanya menjadi keinginan. Maka, pada suatu kesempatan perburuhan Rasus melakukan sesuatu yang selama ini ia tunggu-tunggu yaitu menghancurkan segala bayang-bayangnya tentang emak. Ia yang tadinya sudah membangun sebuah gambaran yang baru (pasca perpisahan dengan Srintil), merasa belum puas dan merasa perlu melakukan hal lain hingga gambaran Emak menjadi sempurna sebagaimana yang ia minta. Berdasarkan versi kedua, Emak tidak mati, akan tetapi ia sembuh dan pergi bersama mantri yang mengobatinya. Gambaran sosok mantri ternyata cukup menggangu, maka harus dihancurkan. Maka ketika tiga tentara yang ia ikuti dalam perburuhan itu tertidur, ia buatlah orang-orangan dari tanah. Ia lukiskan sepasang mata, hidung dan mulut, berikut juga ia pasangkan padanya sebuah topi. Orang-orangan yang mewakili mantri itu ia letakkan di kejauhan, dan dengan senjata milik tentara yang sedang tertidur itu ia tembak-hancurkan orang-orangan tersebut. Orang-orangan itu hancur dan ia berkata :
“Mak, kau sudah bebas sekarang, mari kita pulang !”
Selesaikah? Perubahan memang terjadi, namun perjalan terus berlanjut. Sampai suatu hari, ketika kawasan Dukuh Paruk menjadi target pengawasan. Segerombolan permapok menyantroni rumah Kertareja, dukun ronggeng yang mengasuh Srintil. Para perampok mencari Srintil dan harta yang ia miliki. Rasus dan pasukannya berhasil menggagal perampokan tersebut. Keberhasilan ini akhirnya memberikan Rasus identitas baru sebagai pahlawan Dukuh Paruk. Semua orang memujanya. Ia yang dulu tidak dipandang apa-apa kini menjadi pusat perhatian. Padahal ketika Rasus memukul mati salah seorang perampok sebanrnya ia menganggapnya sebagai mantri yang membawa kabur ibunya. Tak ada yang tahu alasan ini.
Srintil juga datang menemui Rasus yang telah menjadi pahlawan Dukuh Paruk. Bahkan malamnya ia tidur bersama Rasus [hal biasa di dukuh paruk]. Sembari tidur bersama itulah Srintil meminta agar Rasus mau menjadi suaminya. Srintil ternyata memendam keinginan untuk mejadi perempuan biasa, sebagai istri dan ibu. Sebuah permintaan yang mustahil bagi seorang ronggeng. Rasus menolak. Sebagai anak Dukuh Paruk yang telah banyak tahu dunia luar, ia mempunyai seribu alasan untuk dipertimbangkan, bahkan untuk menolak permintaan Srintil.
Mejelang pajar. Ketika nenek dan Srintil masih tertidur, setelah meninggalakan beberapa receh uang Rasus meninggalkan Dukuh Paruk diam-diam. Dengan pakaian serangam tanpa pangkat dan bedil yang ia ambil dari perampok, Rasus melangkah pergi. Meninggalkan Dukuh Paruk sambil dalam hati berkata :
“Aku, Rasus, telah menemukan diriku sendiri. Dukuh Paruk dengan segala sebutan dan penghuninya akan kutinggalkan”.
Sampai di tengah persawahan, Rasus masih sempat menoleh ke belakang. Tersenyum dan beregegas meneruskan perjalanan.
“Dengan tangan memanggul bedil, rasanya aku gagah. Tetapi sebenarnya perasaan itu muncul bukan karena ada sebuah bedil di pundak, melainkan karena aku telah begitu yakin mampu hidup tanpa kehadiran bayangan Emak”.
Akhirnya, Rasus merasakan identitas yang utuh dan koheren. Bulat dan pasti. Namun kepastian itu harus didapat dengan meninggalkan Dukuh Paruk. Pergi dan berpisah menjadi semacam art of becoming baginya. Subjektifitas dan eksistensinya ditemukan dalam sebuah tatanan yang lain yang bekerja sebagaimana bahasa dengan segala hukumnya. “Ego” tidak ditemukan dalam rasionalitas, tapi ditemukan malah dalam keterasingan, keterasingan oleh bahasa. Di sini tidak berlaku cogito ergo sum Cartersian, alih-alih yang berlaku adalah : either I am not thinking or I am not. Atau menurut versi Rasus : Aku pergi maka aku ada……!
(* bacaanku terhadap Ronggeng Dukuh Paruk bagian Catatan Buat Emak. Tulisan ini kubuat tanpa membaca bagian selanjutnya…….., mohon maaf atas segala kerkurangan….
)
din said,
July 10, 2007 at 2:55 am
Kayanya kita sepakat mengatakan bahwa tokoh utama RDP bukanlah Srinthil (terutama di buku I) tapi justru Rasus.
Dari segi tulisan, nyata terlihat perkembangannya dari tulisan yang satu ke tulisan yang lain, dan ternyata masih setia dengan LACAN. Kami sudah lama menyerah dan berpindah ke ladang yang lain, kk masih tetap menggali di ladang psikoanalis Perancis itu.
Kayanya (lagi) baru satu ini yang mengupas RDP pake psikoanalisis Lacanian, kenapa ga coba dikirim ke media?
overall, you’re getting good, better and better. edisi berikutnya jangan terlalu lama ya?
pembaca setia dan pertama kakak ini selalu nunggu kemunculan setiap tulisan baru.
dan
SEMANGAT!!!!!!
Iqbal @l_Imam said,
July 25, 2007 at 3:52 am
Wah, aku jadi yang kedua kalau githu (dalam hal komentar)…
luthfi said,
August 4, 2007 at 5:17 pm
hai…, ini swanvri fp2ws kan? kayaknya iya deh, soalnya jarang-jarang ada nama kayak namanya senoirku itu…
swanvri said,
August 10, 2007 at 4:02 am
@lutjfi
Yup….. !
)
sapto said,
December 18, 2007 at 2:40 am
RASUS TOKOH YANG NJLEMET, SO I CAN TELL ALOT
zahra said,
November 3, 2009 at 8:04 am
hai swanvri salam kenal yah… !