bawuk: jalan saru umar kayam

May 2, 2007 at 2:05 am (Lacanian subject, Psikonalisa)

Bawuk, kata temanjawaku adalah kata lain dari tempek yang dalam bahasa Indonesia disebut vagina. Entahlah, aku tidak tahu kenapa tokoh itu dinamakan oleh Umar Kayam (UK) demikian. Nama ini juga yang menjadi judul cerpen yang menceritakan tokoh tersebut. Tidak ada yang salah, tidak jorok dan tidak berdosa. Hanya saja saru, demikian masyarakat menyebutnya. Saru mungkin juga dekat dengan tabu, seperti membunuh hewan totem di masyarakat tertentu. Ya, mungkin barang yang disebut bawuk itu adalah totem yang tabu untuk disebut dan dijadikan pembicaraan sehari-hari.  

Kalau di dalam hukum syariah atau fiqh bawuk termasuk aurat. Aurat adalah hal-hal yang terlarang untuk dibuka dan diumbar. Ia harus selalu tertutup, tak sembarang orang boleh membuka dan melihatnya. Harus selalu berada di wilyah unconsious. Membuka dan melihatnya adalah tindakan subversib. Melawan hukum maka berdosa.  

Kata ini kemudian melampaui makna refrensialnya ketika ia berada dalam cerpen UK yang menuturkan keterlibatan seseorang bernama Bawuk dengan organisasi bernama PKI. UK tidak menceritakan orang, tapi ia menceritakan sebuah kejadian. Kejadian yang sampai hari ini tak seorangpun tahu, apa sebenarnya yang terjadi. Siapa yang membunuh para Jenderal itu? Ada berapa jumlah korban dan berapa orang yang dikorbankan dalam pembersihan kaum (yang dianggap) pemberontak terjadi? Kenapa pula sampai hari ini semua itu tidak pernah terungkap? Termasuk tabukah? Siapa yang melarang pengungkapannya?. Tidak akan ada jawabannya karena aurat memang dilarang untuk dibuka. Yang melarang biasanya adalah bapak. Bapaklah biasanya yang pertama kali mensabdakan kepada anaknya; “eit, jangan ngomog gitu, jorok, saru !” sabda itu kemudian menjadi hukum, hukum-sang-bapak. Siapa yang menjadi bapak yang kemudian membuat kejadian 65-66 menjadi aurat? “eit, jangan tanya begitu, menyebut nama bapak itu tidak sopan, tabu !”.  

Hukum-sang-bapak dalam linguistik dikenal dengan grammar. Sebuah kata, tidak bisa meluncur sembarangan dari mulut atau muncul begitu saja dalam rajutan sebuah teks tanpa mengikuti tata-bahasa yang sudah ada sebelumnya, walau sang penutur tak pernah menyadari hal tersebut. Begitu juga dalam tatanan simbolik, tak ada yang bisa melawan hukum-sang-bapak. Jangankan melawan, menyebutnya saja adalah tabu. Aurat. 

Berhadapan dengan hukum-sang-bapak di dunia simbolik, bawuk berbeda dengan saudara-sudaranya yang lain. Sejak kecil ia memang berbeda, Bawuk membuat dunianya sendiri, sehingga pada malam ketika ia disidang oleh ibu dan saudara-saudarnya tentang keterlibatannya dengan PKI ia tidak menjawab sama sekali. Bawuk tidak mampu menerangkan kenapa ia menjadi kurir PKI, menjalankan tugas-tugas berbahaya selain bahwa ia adalah istri seorang yang tidak lulus SMA yang mimpi bahwa tanpa ijazah, tanpa kedudukan resmi, orang pun bisa terpandang di masyarakat. Ia bernama Hassan, seorang marxist, pintar intrik dan  kasak kusuk,dan akhirnya memberontak.  

“Yu Mi dan Mas Sun, Mas Mamok dan Yu Yati, Yu Syul dan Mas Pik, Mas Tatok dan Yu Tini, Mamie dan Pappie. Ingatkah kalian pada waktu dulu, suatu sore, Eyang putri pernah bertanya kepada kita ingin menjadi apa kita ini kalau sudah besar nanti. Yu Mi menjawab ingin jadi istri dokter, Mas Mamok ingin jadi burgemeester, Yu Syul ingin jadi istri arsitek, Mas To ingin jadi meester in de rechten, dan saya karen cintaku kepada kebun, ingin menjadi istri landbouw conculent………”. 

Bawuk sejak kecil selalu berkelit untuk ditundukkan oleh tatanan, dan lebih memilih untuk membagun dunianya sendiri yang berbeda dengan sudara-suadarnya yang lain. Ia mempunyai alasannya sendiri yaitu: 

“…..kita tahu, impian kita itu adalah impian anak-anak yang dibangun dari kemauan orang tua kita. Tanpa kita sadari, kita ucapkan satu demi satu impian-impian itu, yang sesungguhnya sudah dibentuk dari hari demi hari oleh orang tua kita…….” 

Sejak awal Bawuk sadar, bahwa hukum-sang-bapak bekerja sejak dini dalam kehidupannya dan saudara-saudaranya. Bahkan sampai cita-cita dan mimpi-mimpi pun harus menyesuaikan (baca : dibentuk) dengan grammar yang sudah ada sebelum manusia dilahirkan. Kedua orang tuanya adalah priyayi agung, Pappie seorang onder dengan karir gemilang, yang ingin melihat anak-anaknya meneruskan kegemilangan itu. Begitu juga Mammie-nya, masih den Ayu dari keraton Solo, yang ingin melihat anak-anaknya mengibarkan terus bendera kepriyayen itu. Bagi bawuk : 

“………jawaban kita kepada pertanyaan Eyang putri itu adalah harapan orang tua kita. Harapan agar tetap menjadi priyayi………” 

Memang suadara-saudara bawuk sebenarnya tidak satupun yang menjadi seperti apa yang mereka inginkan, tetapi mereka tetap menjadi priyayi… 

“……Yu Mi dapat Mas Sun, seorang Brigjen. Siapa yang mau menyangkal bagusnya kedudukan brigjen dalam masyarakt kita sekarang? Brgijen adalah seorang priyagung. Juga kau Yu Syul, dapat Mas Pik, seorang priyagung sipil, dirjen tentu lebih terpandang dari seorang arsitek. Dan Mas Mamok, Mas Tok, meskipun harus lewat jalan berliku-liku, sambil kerja setengah mati, akhirnya bisa menjadi seorang bertitel akademis…….” 

Keinginan orang tua mereka itu, intinya adalah kepriyayen. Toh kemudian dicapai dengan cara yang berbeda itu tidak masalah yang penting adalah signified-nya, kepriyayen. 

Kutipan-kutipan di atas adalah kata-kata Bawuk untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saudara-saudaranya tentang keterlibatannya dengan PKI. Tak satupun jawaban itu yang mengena, karena bagi bawuk keterlibatannya itu tidaklah sederhana dan bisa diterangkan begitu saja. Maka jawaban-panjang, sebagaiamana di atas, tak pernah keluar dari mulutnya. Semuanya, sebenarnya, hanya ia tuturkan hanya dalam hati. Dalam diam. Dalam register imaginer dari struktur psikisnya. Kalau ia ucapkan maka akan terjadi tindakan subversib, penyebutan nama-sang-bapak, dan ini terlarang. Tabu !. 

Dalam jawaban imaginernya, bawuk menuturkan tiga momen yang membentuk subjektifitas, yakni ‘alienasi’ di mana subjek tersubjektifikasi di bawah Liyan. Dalam hal ini adalah orang tua mereka (Liyan) mendominasi anak-anaknya (termasuk bawuk). Kemudian ‘separasi’ di mana hasrat Liyan (kepriyayen) mendomiasi subjek. Dan yang terakhir adalah tranversing of fantasy, dimana subjek (di sini hanya bawuk) menundukkan cause eksistensinya (hasrat Liyan). Pada situasi psikoanalitik yang terakhirlah Bawuk mencoba untuk terus berjalan … : 

“……tapi mas-mas, mbak-mbak, Mammi-Pappie, itulah pilihanku. Dunia Abangan yang bukan priyayi, dunia yang selalu resah dan gelisah, dunia penuh ilusi, yang memang sering kali indah sekali.” 

Bawuk tetap untuk memilih terlibat dengan masalah yang ia hadapi. Baginya perubahan itu sangat penting. Bergerak dalam rerantai metaforiasai adalah proses yang harus ditempuh untuk menjadi subjek yang bisa mengendalikan hasrat Liyan hingga hasrat itu menjadi semacam hasrat murni tanpa objek, desirousnes. 

“ada tingkat-tingkat perubahan memang, tetapi yang pokok kita berubah. Dan kita pasti terus berubah, bergeser terus ke sana dan ke sini karena kita telah menjadi bagian-bagian dunia yang lain. Itulah Mas-mas dan mbak-mbak dan Mammie-Pappie yang saya mau coba katakan. Kalian dengarkah?” 

Saudara-saudara Bawuk yang mengelilingi meja marmer masih menunggu. Mereka melihat Bawuk cuma duduk, diam. Air matanya meleleh. Tak sepatah katapun keluar. Semua hanya ia ucapkan di hati, di dunianya sendiri. Dunia yang berbeda dengan dihuni orang kebanyakan. Di dunia yang, bahkan, kepada Pappienya yang sudah meninggalpun bisa ia berujar.  Akhirnya bawuk pergi dan menitipkan dua anaknya pada Mammie-nya. Bawuk pergi mencari Hassan sang suami yang tidak tahu bersembunyi di mana. Ia mengejar mimpi-mimpinya, mimpi yang ia sendiri tidak bisa mengerti dengan mudah. Dan pencarian itu akhirnya menhasilkan kabar bahwa dia tidak akan bisa bertemu dengan suami-tercinta-nya lagi. 

Strategi berhubungan dengan tatanan simbolik yang dilakukan Bawuk juga-lah yang dilakukan UK dengan cerpen berjudul saru ini. Peristiwa 65-66 yang menjadi tabu untuk dibuka ini ia jadi-kan sumber kreatifitas. Ketika represi kekuasaan melarang muncul-nya beberapa hal di permukaan teks, maka ia tidak menyerah begitu saja. Ada celah yang bisa membuat ia mencapai kejadian-kejadian yang tetap unconscious di sepanjang perjalan bangsa ini. Semacam, meminjam istilah Kleden, strategi literer menghadapi moment-moment traumatik yang ia temukan dalam perjalan bangsa.

Permalink 7 Comments

« Previous page · Next page »